Kamis, 25 Oktober 2018


MENGAPA LBM DEPOK MUSYAWARAH (DISKUSI) KITAB TAQRIB ?

Tidak ada yang menyangkal akan kemasyhuran kitab Taqrib (al-Ghayah wa at-Taqrib), sebuah risalah kecil dalam disiplin fiqih yang meskipun tipis tapi berbobot. Nyaris  semua pondok pesantren di Indonesia dalam desain kurikulum pembelajarannya memakai matan kitab Taqrib ini. Ia menjadi materi dasar penguasaan fan fiqih untuk para santri.

Menurut analisa KH. Azizi Hasbullah, aktivis Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur, sebenarnya banyak karya-karya pakar fiqih klasik sekurun dengan Taqrib yang ditulis dan beredar di berbagai penjuru negeri muslim, baik yang tipis maupun yang tebal. Pada umumnya kitab-kitab fiqih klasik itu tidak banyak perbedaan baik pada sisi materi, sistematika pembagian bab demi bab, fasal demi fasal, hingga pilihan redaksi kalimat yang digunakan.

Meskipun begitu, hanya sedikit diantara sekian banyaknya kitab klasik yang disusun tersebut mendapat apresiasi dan diterima secara luas sampai lintas negeri sebagaimana Matan Taqrib. Tidaklah semua kitab fiqih karangan para ulama klasik tersebut dapat begitu saja masyhur dan dikenal secara luas dari waktu ke waktu sebagaimana kitab Taqrib yang hingga kini masih tetap dikaji, dipelajari dan diminati banyak orang khususnya pondok pesantren dan madrasah diniah.

Bila ditelusuri, semua keistimewaan itu tidak terlepas dari kepribadian dan reputasi penulisnya, yaitu Syeikh Abu Syuja' yang bernama lengkap Ahmad bin Husain bin Ahmad al-Asfihani.

Menurut keterangan Syeikh Nawawi al-Bantani, Abu Syuja’ lahir tahun 433 H. Semasa hidupnya, beliau pernah menjabat sebagai Qadhi di Madinah, dan sempat pula menjadi menteri (wazir) saat berusia 47 tahun.

Saat menjabat sebagai menteri beliau dapat menyebarkan syiar agama dan keadilan. *Sedapat mungkin ia tak pernah keluar rumah sebelum shalat dan membaca al-Qur'an. Dalam urusan kebenaran ia tak pernah merasa gentar atau takut menghadapi kecaman, hujatan dan caci maki. Selain itu Abu Syuja dikenal sangat dermawan bahkan sampai mengangkat sepuluh orang pembantu hanya untuk membagi-bagikan hadiah dan sedekah. Dan lebih spektakulernya lagi, di usia senjanya ketika memutuskan hendak berkhidmah di Masjid Nabawi, beliau menyedekahkan semua harta benda yang ia miliki.*

Tentang karakteristik kepribadian beliau lainnya adalah ia dikenal tidak hanya alim dalam ilmu syariat, melainkan juga dikenal zuhud, memiliki kerendahhatian, kesalihan, ketaqwaan, serta ketinggian rasa sosialnya.

Abu Syuja dikaruniai usia panjang, 160 tahun. *Meskipun berusia lanjut, tidak ada satu anggota tubuh pun yang cacat.*

Pendengaran maupun penglihatannya masih tajam. Demikian juga dengan anggota badan lain. Suatu hari ditanya oleh salah satu orang tentang kesehatan fisiknya itu.

Beliau menjawabnya:
حفظناها فى الصغر فحفظها الله فى الكبر

Kami menjaganya (dari dosa) ketika masih muda maka Allah menjaganya ketika kami tua.
*Sejak masih kecil saya selalu menjaga anggota-anggota badan ini dari perbuatan-perbuatan mendurhakai Allah (maksiat), sehingga Allah menjaga anggota-anggota ini (sampai usia tua),*  jawabnya tanpa menyombongkan diri.

Untuk menghabiskan masa tuanya, beliau memilih uzlah dengan bermukim di Masjid Madinah, mendekatkan diri pada Allah, di situ beliau sembari mengabdikan diri menjadi tukang sapu dan penyala lampu di Masjid dan Makam Rasullullah Saw. Imam Nawawi Albantani tidak menyebutkan tahun berapa Abu Syuja wafat. Dan pada akhirnya ia di makamkan di Masjid Madinah di sisi pintu Jibril, berdekatan dengan makam Rasulullah Saw, hanya berjarak beberapa jangkah kaki saja.


*Kitab Fathul Qorib dan Fathul Mu'in*

KH. M. Najich Maiomen dawuh, *kitab fathul qorib dan fathul mu'in adalah kitab yang menjadi penyebab futuhnya (terbukanya ilmu) masyayikh kita*.

Syaikh Yasin bin 'Isa al-Fadani, saat berkunjung ke Lirboyo, beliau berpesan kepada para santri : "Kalau ingin alim fiqh madzhab Syafi'i, hendaknya meyempatkan diri muthola'ah (menelaah) kitab *FATHUL QORIB* dengan istiqomah setiap hari, meskipun hanya satu atau dua fashal".

(Ustadz Fuad Munir - Ketua LBM NU Kota Depok)

Minggu, 26 Agustus 2018



KH. Ruhiat adalah tokoh terkenal pada zamannya karena dialah pendiri pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya. Namun generasi saat ini kurang lagi mengenal ketokohannya. Bahkan puteranya yaitu KH. Ilyas Ruhiat lebih dikenal apalagi setelah menduduki jabatan tertinggi di NU sebagai Rais Aam. Hal itu bisa dimengerti, kiai sepuh tersebut telah meninggal 29 tahun lalu. Tanggal 17 Dzulhijjah 1426 H yang bertepatan dengan 17 Januari 2006, adalah haul (peringatan hari wafat) ke-29 KH. Ruhiat.
Pesantren Cipasung saat ini merupakan pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Jawa Barat. Perannya dalam penyiaran agama, pengembangan masyarakat dan menjaga harmoni sosial sangat besar. Selain keteguhannya mengembangkan pesantren yang responsif pada perkembangan dunia pendidikan, pada masa penjajahan, Ajengan Ruhiat juga seorang patriot yang mengorbankan tenaga dan pikirannya untuk kemerdekaan Republik Indonesia.
Jika syarat seorang pahlawan nasional adalah mendukung kemerdekaan sejak awal mula diproklamasikan, maka Ajengan Ruhiat (AR) memenuhi syarat itu. Tak lama setelah berita Proklamasi Kemerdekaan sampai ke Cipasung, AR segera pergi ke kota Tasikmalaya. Dengan menghunus pedang, ia berpidato di babancong, podium terbuka yang tak jauh dari Pendopo Kabupaten. Ia menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih cocok dengan perjuangan Islam, oleh karenanya harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya itu. Dia tokoh Islam pertama di Tasikmalaya yang melakukan hal itu.
Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya ‘mendirikan negara di dalam negara’ itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang. Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya.
Kegigihannya sebagai seorang pejuang dibuktikan dengan pernah dipenjara tak kurang dari empat kali. Pertama, pada tahun 1941 ia dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari bersama pahlawan nasional KH. Zainal Mustafa. Alasan penahanan ini karena Pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah yang dianggap dapat mengganggu stabilitas kolonial. Kedua, bersama puluhan kiai ia dijebloskan ke penjara Ciamis. Ia hanya tiga hari di dalamnya karena keburu datang tentara Jepang yang mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda tahun 1942. Ketiga, tahun 1944 ia dipenjara oleh pemerintah Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH. Zainal Mustofa di Sukamanah. Pada saat itu, Ajengan Cipasung dan Sukamanah lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Kecintaan sang Ajengan pada NU sangat mendalam, oleh karena itu pada saat Ajengan Sukamanah berbulat tekad untuk melawan Jepang, keduanya membuat kesepakatan. Ajengan Sukamanah tidak akan melibatkan NU secara organisasi dan perjuangannya bersifat pribadi, agar NU tidak menjadi sasaran tembak tentara Jepang. Secara organisatoris, Ajengan Sukamanah menyatakan keluar dari NU (Aiko Kurasawa,1993). Dengan kesepakatan ini, jika terjadi akibat buruk dari perlawanannya—sesuatu yang sudah mereka perhitungkan--, organisasi NU tidak akan terbawa-bawa dan AR tetap bisa mengembangkan NU di Tasikmalaya dan Jawa Barat. Kesepakatan itu dibuktikan oleh Ajengan Ruhiat lewat keterlibatannya di NU sampai ke tingkat pusat.
Kariernya di PBNU dibuktikan dengan menjadi A’wan (pembantu) Syuriah PBNU periode 1954-56 dan 1956-59, serta perkembangan NU di Tasikmalaya dan Jawa Barat yang ditunjang oleh para alumni Cipasung. Keempat, ia dijebloskan ke penjara Tasikmalaya selama sembilan bulan pada aksi polisionil kedua, dan dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan. Ini membuktikan bahwa AR seorang non-kooperatif sehingga sangat dibenci penjajah yang membonceng pasukan NICA itu. Sebelum masuk penjara yang terakhir itu, sepasukan tentara Belanda datang ke pesantren pada waktu ia sedang salat ashar bersama tiga orang santrinya. Tanpa peringatan apapun, tentara Belanda itu memberondongkan peluru ke arah mereka yang sedang salat. AR luput dari tembakan, tetapi dua santrinya tewas dan seorang lagi cedera di kepala.
Mungkin ia tidak disebut sebagai pahlawan karena tidak pernah menduduki jabatan dalam pemerintahan, sebab konsisten memilih jalur pendidikan pesantren sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekat-nya. “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri,” ujarnya. Atau karena tidak pernah menjadi politisi yang berjuang di parlemen. Sebab katanya, “Biarlah bagian politik itu sudah ada ahlinya, Akang memimpin pesantren saja, jangan sampai semua ke politik. Kalau pesantren ditinggalkan, bagaimana nanti jadinya negara merdeka ini kalau penduduknya tidak berahlak agama?” Melihat track record-nya di atas, sesungguhnya tidak berlebihan jika ajengan patriot itu mendapat pengakuan sebagai Pahlawan Nasional.
Ajengan Ruhiat lahir pada 11 Nopember 1911 dan wafat 28 Nopember 1977. Hari wafatnya bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397, dan perhitungan menurut kalender Hijriah inilah yang dijadikan patokan peringatan haul-nya. Ia adalah generasi yang mengalami pedih-perihnya penghinaan terhadap kelompok santri oleh penjajah Belanda dan antek-anteknya. Santri digolongkan sebagai kaum tradisional, kaum sarungan yang berpikiran kolot. Suatu penghinaan yang kemudian diteruskan oleh mereka yang menamakan dirinya kaum modern di kemudian hari, bahkan sampai hari ini. Sebagai jawaban atas penghinaan itu, ia bersikap meniru gaya berpakaian kaum modern. Dalam acara resmi, AR selalu berpakaian rapi, mengenakan jas, pantalon, lengkap dengan dasi. Ketika digugat sebagian orang, ia menjawab, “Untuk mengimbangi, agar jangan sampai kita disebut bangsa yang tak punya cita-cita, dan saya menghargai ilmu agama agar tidak dihina oleh orang lain.”
‘Perlawanan’ atas penghinaan itu selalu dirayakan secara meriah di Pesantren Cipasung pada era kepemimpinannya. Yaitu pada saat khataman Jam’ul Jawami’, sebuah kitab yang dianggap paling sulit dikaji oleh santri. Selain menyembelih kambing dan ritual khataman lainnya, ia bersama santri yang telah khatam (lulus) berpose bersama dengan busana ‘modern’ itu (lihat foto).
Sebagai jawaban bahwa Pesantren Cipasung responsif terhadap perkembangan pendidikan, ia memelopori pendirian sekolah umum sejak tahun 1950. Ia merintis pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Untuk perintisan hampir semua lembaga pendidikan formal itu, ia didukung oleh operator lapangan yang sangat tangguh, yaitu Mohammad Ilyas, putera keduanya. Ilyas-lah yang tisusut tidungdung, bekerja tanpa mengenal lelah, mengurusi semua tetek bengek perizinan. Ilyas juga mengambil alih pengajian pesantren, ketika ayahnya dipenjara dan mengungsi, sehingga pesantren Cipasung tak pernah putus pengajian dan santri, sejak didirikan tahun 1932 hingga hari ini. Kerja keras Ilyas itulah yang memudahkan adik-adik dan keluarganya di kemudian hari, untuk mengelola semua lembaga pendidikan di Cipasung.
AR termasuk pribadi yang terbuka atas segala perkembangan informasi dalam berbagai bidang. Selain kitab kuning, koleksi bukunya mencakup bidang politik, ekonomi, dan tata negara. Ia menganggap Islam sebagai ajaran dinamis yang selalu harus bisa menjawab tantangan zaman. Dalam catatan Atang Mansur, Ajengan Ruhiat kerap mengutip pendapat Al-Mustarwalidz al-Katib Al-Injily al-Kabir yang terdapat dalam Tafsir al-Jawahir karya Thanthawi Jauhari. “Setiap agama yang tidak bisa mengiringi laju peradaban, maka kesampingkan saja, sebab agama tersebut hanya akan merepotkan para pemeluknya. Agama yang haq adalah Islam (yang berpedoman Al-Quran). Dan Al-Quran ialah kitab (yang memuat persoalan) 1) keagamaan, 2) ilmu pengetahuan, 3) sosial kemasyarakatan, 4) pendidikan-pengajaran, 5)etika, dan 6) sejarah, (yang akan abadi) hingga hari kiamat.” Tetapi cara berpikir AR yang sangat aprogresif tadi luput dari amatan peneliti tentang kyai dan NU. Padahal para kiai seperti dia itulah merupakan akar progresifitas pemikiran Islam pesantren.
Pandangannya atas perkembangan politik juga sangat kritis. Ketika Bung Karno mengeluarkan Dekret Presiden 5 Juli 1959, secara spontan AR berkata kepada sejumlah santrinya, “Setiap umat yang kembali pada prinsip terdahulu (yang sudah sepakat ditinggalkan) dan tidak mengikuti segala yang berlaku sesuai perkembangan zaman, maka Allah akan merusaknya.” Dengan berseloroh ia mencontohkan bahwa orang yang kembali menumbuk padi padahal sudah ada mesin giling, maka ia akan kerepotan, pegal linu dan kecapekan.
Demikian pula dukungannya pada pilihan politik NU, diambilnya tanpa reserve sehingga kebijakan NU dapat disosialisasikan dengan cepat di wilayah Priangan Timur. Misalnya dalam menanggapi konsep Nasakom, ia mengatakan, “Kalau kita tidak menerima Nasakom, PKI akan berkacak pinggang. Menerima Nasakom adalah satu siasat NU yang membuat PKI lupa daratan sehingga lupa akan bahayanya. Mereka merasa ada yang mendukung atas tujuan taktiknya, padahal secara diam-diam orang NU telah siap menghadapi apa yang akan terjadi. Buktinya, ketika orang lain bingung saat PKI melakukan kup, orang NU sudah langsung bisa menetapkan bahwa itu gerakan PKI. Buktinya langsung tanpa ragu meminta pemerintah untuk membubarkan PKI. Alhamdulillah oleh pemerintah Orba dapat dikabulkan, PKI dibubarkan.”
Setelah peristiwa 65 terjadi, AR tidak terlibat menoreh ‘luka sejarah’. Di sekitar Cipasung konflik NU-PKI tak setajam di Jawa Tengah atau Jawa Timur. ‘Serangan’ pihak PKI berkisar pada cemoohan, misalnya orang yang sedang mengaji disebut sedang ‘menggonggong’. Memang, belajar dari kasus serangan DI/TII ia sempat mengaktifkan kembali latihan pencak silat, tetapi hanya untuk berjaga-jaga. Bukti bahwa Cipasung tak terlalu terganggu suasana politik waktu itu, ialah peresmian Fakultas Tarbiyah yang kemudian menjadi Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), pada tanggal 25 September 1965. Tarikh ini juga menunjukkan bahwa Perguruan Tinggi di Cipasung berdiri tiga tahun mendahului IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Di situlah ia menunjukkan aprogresivitas pemikirannya.
Setelah pemerintah Orde Baru tampil, tokoh-tokoh yang sebelumnya ragu kepada NU banyak yang datang ke Cipasung. Mereka menyatakan ‘pertobatan’ dan percaya bahwa NU tidak pernah punya tujuan khianat dan merongrong kepada bangsa dan negara Indonesia, atau berniat mendirikan negara dalam negara. Mereka kemudian menitipkan sanak saudaranya untuk belajar di Cipasung. “Bagaimana kalau keluarga, anak-anak Anda nantinya menjadi NU?” tanya AR. Kemudian mereka menjawab, “Tidak apa-apa kalau mereka menjadi NU sebab kami percaya NU tidak pernah ada maksud merongrong negara, nusa, dan bangsa.”
AR memang dikenal dekat dengan tokoh-tokoh NU dan pesantrennya menjadi persinggahan para tokoh itu jika mengunjungi wilayah Priangan Timur. Ia juga menjadi salah satu teman baik KH. A. Wachid Hasyim. Menurut catatan Saifuddin Zuhri (1987), semua sahabat dekat Pak Wachid biasanya intensif saling surat-menyurati untuk merespon berbagai perkembangan pesantren dan situasi politik nasional. Dalam biografi KH. Masykur yang ditulis oleh Soebagijo I.N. (1982: 97), terdapat sebuah foto yang mengabadikan kunjungan Kiai Masykur, Kiai Wachid ke Cipasung.
Dengan cara pandangnya yang terbuka atas berbagai perkembangan duniawi, ia mendorong santrinya yang ingin terlibat dalam pengelolaan negara, baik melalui jalur politik maupun birokrasi. Hal itu sebagai bagian dari keikutsertaan mengisi kemerdekaan, setelah sebelumnya kiai dan santri ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu. Karena itu, banyak alumni Cipasung yang menjadi politisi dan mengisi kebutuhan birokrasi terutama di Jawa Barat.
Namun demikian ia juga sangat mendukung santrinya yang ingin menjadi ajengan dan membuka pesantren. Misalnya kepada santri asal Garut bernama Memed Sopandi, ia berpesan empat hal. Pertama, sekalipun santrinya hanya satu orang tetap harus diajar dengan sungguh-sungguh. Kedua, jangan berdagang di pasar. Ketiga, jangan jadi aparat pemerintah. Keempat, jangan terlalu suka menerima undangan keluar pesantren sehingga sering meninggalkan pengajian. Lalu ia berkata, “Pulanglah, kalau ada kesulitan dalam pengajian, jangan kembali ke sini, tanya saja Munjid!” Munjid adalah kamus berbahasa Arab karya seorang non-muslim, Louis Ma’luf, di sana terdapat berbagai informasi, baik mengenai keilmuan agama, ilmu sosial maupun ilmu alam, binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Semua pesan itu tentu saja terlebih dahulu sudah dipraktikkan secara konsisten olehnya. Bahkan pada masa genting ketika pasukan Belanda kerap berpatroli ke Cipasung. Jika patroli datang, ia berpura-pura menjadi petani di sawah. Setelah patroli pergi, ia segera menepi dan menuju dangau terdekat untuk kemudian memberikan pengajian pada santri yang mengikutinya. Ia tak pernah berhenti mengajar di pesantren kecuali saat berada di dalam penjara. Ia juga menolak undangan pengajian dari luar daerah di malam hari, karena khawatir akan meninggalkan jadwal pengajiannya setelah subuh. Pernah suatu ketika warga NU dari Karawang mendesaknya memberikan pengajian di malam hari. Ia menyetujui permintaan itu setelah sahibul hajat berjanji akan mengantarkannya kembali ke Cipasung sebelum waktu subuh tiba.
Diambil dari Wikipedia https://id.wikipedia.org/wiki/Ruhiat

Senin, 06 Agustus 2018






Berkurban termasuk salah satu ibadah yang sunnah untuk ditunaikan. Disunnahkan tentunya karena tidak semua orang bisa dan mampu untuk membeli atau memiliki hewan-hewan kurban.

Sebagaimana yang kita ketahui, kurban biasanya menggunakan tiga hewan ternak, seperti kambing, sapi dan unta, tentunya dengan syarat-syarat tertentu. Namun, bolehkah berkurban dengan selain tiga hewan tersebut?

Dalam menanggapi hal ini, Imam an-Nawawi dalam al-Majmu Syarh Muhadzzab-nya menjelaskan bahwa hewan yang diperbolehkan adalah hanya hewan ternak, yakni unta, sapi dan kambing serta hewan-hewan yang sejenis.

Dalam hal ini, Imam an-Nawawi berpedoman pada Al-Qur’an surat al-Hajj ayat 34:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap bahimatul an’am (binatang ternak) yang telah direzekikan Allah kepada mereka” (QS. Al Hajj: 34).

Untuk menjelaskan ayat tersebut, Imam an-Nawawi kemudian menyebutkan:

فشرط المجزئ في الاضحية أن يكون من الانعام وهي الابل والبقر والغنم سواء في ذلك جميع أنواع الابل من البخاتي والعراب وجميع أنواع البقر من الجواميس والعراب والدربانية وجميع أنواع الغنم من الضأن والمعز وانواعهما ولا يجزئ غير الانعام من بقر الوحش وحميره والضبا وغيرها بلا خلاف

Artinya, “Syarat diperbolehkannya hewan kurban adalah hewan tersebut merupakan hewan ternak, yaitu unta, sapi dan kambing. Termasuk segala jenis unta, seperti al-bakhati (unta yang memiliki dua punuk) atau al-‘irab (berpunuk satu), juga segala jenis sapi, seperti kerbau, al-‘irab, al-darbaniyah (sapi yang tipis kuku dan kulitnya serta memiliki punuk), begitu juga dengan segala jenis kambing, seperti domba/biri-biri, atau kambing lain. Dan tidak diperbolehkan berkurban selain dengan hewan-hewan ternak yang telah disebutkan, baik berupa hasil kawin silang antara sapi dan keledai ataupun hewan lain. Hal ini tidak diperdebatkan oleh para ulama.” (Lihat: An-Nawawi, al-Majmū’ Syarḥ Muhazzab, Beirut, Dâr al-Fikr, tt., j. 8, h. 392)

Dari pernyataan Imam An-Nawawi tersebut sudah dijelaskan bahwa menyembelih kurban selain tiga hewan tersebut dan jenis-jenisnya tidak diperbolehkan.

Lalu bagaimana dengan ayam, bukankah ayam termasuk hewan ternak? Bolehkah berkurban dengan ayam?

Dalam bahasa Arab, sebenarnya ayam bukanlah termasuk kategori al-an’âm. Dalam beberapa Mu’jam Al-Qur'an, seperti Mu’jam Kalimat al-Qur'an  dijelaskan bahwa kata al-anʽâm dalam ayat Al-Quran hanya mencakup al-Ibil (unta), al-baqar (sapi), dha’n (domba atau biri-biri) dan al-maʽiz (kambing). 

Namun dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan cukup menyembelih dengan ayam jika tidak memiliki kambing di saat hari raya dan hari tasyrik. Sebenarnya pendapat Ibn Abbas ini dalam konteks aqiqah, namun menurut al-Maidani hukum kurban dalam hal menggunakan ayam diqiyaskan dengan kasus aqiqah. (Lihat: al-Baijuri, Hasyiyah al-Baijuri, Beirut, Dâr al-Kutb, 1999, j. 2, h. 555). Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)

Pernikahan memiliki kedudukan yang sangat penting dan sakral di dalam Islam. Tidak main-main. Di dalam Al-Qur’an, pernikahan disebut sebagai sebuah perjanjian yang kuat dan kukuh (mitsaqan ghalizha). Sebuah istilah yang hanya disebut Allah tiga kali dalam Al-Qur’an;  Surat An-Nisa 21 (perjanjian suami dan istri atau pernikahan), Surat An-Nisa 154 (perjanjian Allah dengan umat-Nya soal ajaran agama), dan Al-Ahzab 7 (perjanjian Allah dengan para nabi).

Tidak lain, penggunaan ungkapan mitsaqan ghalizha adalah untuk menunjukkan bahwa pernikahan adalah sebuah ikatan yang suci. Maka dari itu, pasangan suami istri harus menjunjung tinggi ikatan tersebut, serta teguh mempertahankan dan menjaganya. 

Pernikahan adalah pertemuan dua individu dengan latar belakang, karakter, dan budaya yang berbeda. Maka tidak heran jika di tengah perjalanan mengarungi biduk rumah tangga, terjadi perselisihan antara suami dan istri karena sejatinya mereka memang ‘berbeda’. 

Tujuan pernikahan bukan lah untuk merubah salah satu menjadi seperti yang lainnya. Akan tetapi, masing-masing dituntut untuk bisa memahami dan menerima perbedaan yang ada diantara keduanya sehingga kebahagiaan dan ketenteraman bisa terwujud.

Dalam pernikahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah, Rasulullah saw. telah memberikan tuntunan, pandangan, dan wejangan mengenai pernikahan. Setidaknya ada tiga poin yang disampaikan Rasulullah pada kesempatan tersebut. 

Pertama, pernikahan adalah kuasa Allah. Semua yang ada di jagat raya ini tidak bisa lepas dari kekuasaan dan ketetapan Allah, termasuk pernikahan. Dalam hal pernikahan, Allah telah menetapkan sebuah sistem. Apakah sebuah pernikahan langgeng dan gagal. Jika pasangan suami istri mengikuti sistem yang telah ditetapkan-Nya, maka pernikahan mereka bisa langgeng dan bahagia. Begitu pun sebaliknya. 

الذي خلق الخلق بقدرته، ونيرهم بأحكامه

“Dialah yang yang menciptakan makhluk dengan kekuasan-Nya. Dialah yang menerangi jalan manusia dengan ketetapan-ketetapan-Nya,” kata Rasulullah saw. dalam pernikahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah, dikutip dari buku Pengantin Al-Qur’an.  

Kedua, sarana memperoleh keturunan. Rasulullah juga menegaskan bahwa pernikahan adalah sarana untuk memperoleh keturunan. Dalam satu hadist, Rasulullah menyeru kepada umatnya untuk menikah dengan perempuan yang subur sehingga dapat melahirkan banyak anak. Yang terpenting bukan hanya memperoleh keturunan atau anak yang banyak saja, tapi juga berusaha membentuk generasi yang berkualitas. Yakni generasi yang beriman, bertakwa, dan berilmu.

إن عز وجل جعل المصاهرة نسبا

“Allah yang Maha Tinggi dan Maha Mulia telah menjadikan perkawinan sebagai sarana perolehan keturunan,” sambung Rasulullah saw. 

Ketiga, mempererat tali kekerabatan. Salah satu rukun nikah dalam Islam adalah adanya wali, khususnya bagi mempelai perempuan. Dengan demikian, baik secara langsung atau tidak, sesungguhnya pernikahan dalam Islam tidak hanya melibatkan dua individu (mempelai laki-laki dan perempuan) saja, tapi juga keluarga besar dari yang bersangkutan. Setelah ada ikatan pernikahan, biasanya dua keluarga besar memiliki ikatan yang kuat. (Muchlishon)


Berkembangnya radikalisme di Indonesia saat ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi semua elemen bangsa. Upaya deradikalisasi sudah dilakukan oleh pemerintah dengan menggandeng stake holders terkait. Harapannya, pemahaman, sikap, dan aksi radikalisme dapat diberantas sampai ke akar-akarnya. Namun seakan-akan "patah tumbuh hilang berganti". Kelompok-kelompok radikal terus berupaya menebarkan virus radikalismenya melalui segala lini, mencengkram dengan jaringan yang terstruktur sehingga berbagai lini sudah mampu dikuasai.

Salah satu jaringan yang sudah menjadi lahan subur tumbuhnya paham radikal adalah lembaga pendidikan baik sekolah maupun kampus perguruan tinggi. Kondisi ini ini tentu sangat memprihatinkan karena bagaimana pun para pelajar dan mahasiswa adalah kader yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di negeri ini dan kepada merekalah eksistensi negara Indonesia harus dilanjutkan dan dipertahankan.

Terkait permasalahan ini dan bagaimana langkah NU menghadapi kondisi yang jika didiamkan mampu merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia, Jurnalis NU Online Muhammad Faizin melakukan wawancara dengan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung yang juga Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung KH Mohammad Mukri di kediamannya di daerah Sukarame Bandarlampung, Rabu (13/6) malam. Berikut hasil wawancara dengan Professor Ilmu Ushul Fiqh ini.

Apakah paham radikalisme memang berkembang di kampus perguruan tinggi, Prof? Elemen apa yang terpapar?Iya, paham radikalisme memang tumbuh di kampus-kampus dan memang ada. Utamanya tumbuh subur di kampus- kampus perguruan tinggi umum. Kenapa? Karena yang mengajarkan agama di perguruan tinggi negeri umum itu adalah orang atau dosen yang tidak didesain menjadi dosen agama. Ada kecenderungan orang yang senang dengan agama tapi tidak dididik secara sistematis untuk tahu agama dari madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah sampai dengan perguruan tinggi agama. Mereka malah berasal dari pendidikan umum SD, SMP, SMA yang kurang bersentuhan dengan pendidikan ilmu agama kemudian di perguruan tinggi bergabung dengan halaqah-halaqah (perkumpulan) dengan belajar agama sendiri.

Mereka tidak paham bahwa ilmu agama itu punya sanad, metodologi dan manhaj tertentu. Sehingga yang seperti ini sangat berbahaya apalagi disusupi paham radikal yang menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits melalui cara yang bertentangan dengan kaidah dan nilai-nilai dasar yang disepakati. Pemahaman seperti inilah yang ditanamkan kelompok radikal sehingga menganggap pancasila, UUD 45 tidak islami serta menuduh Indonesia negara taghut dan tidak ada yang baik dalam pandangan kelompok ini. Semua jadi jelek dan ini kontra produktif. Ingat, mendirikan bangsa ini bukan main-main.

Kemudian bagaimana NU khususnya PWNU Lampung menyikapi kondisi memprihatinkan ini?NU sudah melakukan aksi nyata terkait kondisi ini. Tidak hanya sekedar wacana, karya kata namun karya nyata. NU sudah melakukan langkah-langkah terstruktur terkait kaderisasi melalui Pendidikan Kader Penggerak NU ataupun Madrasah Kader kepada pengurus dan warga NU. Tujuan kaderisasi ini adalah mengarusutamakan paham Islam wasathiyah (moderat). Kenapa harus moderat? Karena fakta Indonesia sudah ditakdirkan oleh Allah sebagai negara multikultural, multietnis, multiagama, multibahasa dan dengan pemahaman yang moderat sampai dengan saat ini masih damai. Namun kalau paham-paham ini (radikal, red) masuk maka akan muncul ketidak damaian di negeri ini. Apa yang dilakukan NU akan dan harus terus diperkuat secara sistematis dan masif.

Perkembangan paham radikalisme di kampus disinyalir juga bersemai subur di masjid-masjid kampus. Bagaimana tanggapan Profesor?Secara umum ada perbedaan perkembangan paham radikal di masjid kampus perguruan tinggi umum dan masjid perguruan tinggi agama. Kalau di kampus perguruan tinggi agama, memang menjadi tempat dan banyak ahli agama. Sehingga paham-paham seperti ini bisa dibendung. Seperti pengalaman saya ketika menjadi Pembantu Rektor III saya selalu memberikan pengarahan kepada mahasiswa yang akan melaksanakan kajian keagamaan agar mengundang pemateri yang memang memiliki kapasitas dan keilmuan yang jelas. Tidak mendatangkan pemateri yang tidak jelas background (latar belakang) pendidikan agamanya apalagi mendatangkan orang yang memiliki misi politik dibungkus agama.

Kalau di perguruan tinggi umum kenyataannya banyak halaqah-halaqah dan kajian agama beraliran Islam transnasional yang selanjutnya menjadi cikal bakal pergerakan di dunia politik. Di sejumlah negara Timur Tengah, aliran ini sudah dilarang seperti di Mesir, Yordania, Arab Saudi. Karena negara Indonesia adalah negara demokrasi, dipersilahkan sepanjang dia (kelompok Islam transnasional) bisa mendapat tempat di masyarakat. Sehingga kelompok ini pun bisa berkembang di Indonesia dan memiliki jaringan serta memiliki kader yang well-educated (berpendidikan baik).

Mereka juga memiliki tim cyber internet (media sosial) sendiri yang senang memanfaatkan dan menggoreng berita yang sedang viral untuk kepentingan mereka. Apalagi isu-isu terkait agama dari dulu memang menjadi komoditi dan menarik karena ada ayatnya, ada dalilnya, ada penganutnya dan janjinya surga. Dan mereka memiliki kesemangatan beragamanya tinggi namun memahami agama secara tekstualis, tidak melihat konteksnya di mana, masyarakatnya seperti apa. Maka seperti kelompok-kelompok khawarij, Ibnu Muljam itu menjelma kembali.

Kenapa Islam moderat cocok untuk Indonesia dan bagaimana paham radikal mempengaruhi pola pikir masyarakat yang aslinya sudah moderat?Islam moderat itu damai dengan lingkungan serta menjunjung tinggi budaya selama tidak bertentangan dengan agama. Maka itu kebiasaan seperti Yasinan, Barzanji, Nujuh Hari mampu dilestarikan selaras dengan nilai-nilai agama. Sebelum Islam datang ke Indonesia, sudah ada Majapahit. Sudah mapan selama 600 tahun tidak kebayang bisa bubar. Pada zaman Majapahit yang berbicara masalah agama adalah sekelas Brahma atau Kiai. Dan seorang Priyayi atau Ningrat tidak boleh berbicara masalah agama.

Berbeda dengan kondisi saat ini di mana semua orang bicara agama dengan retorika diri sendiri. Seolah-olah sudah paling alim agama padahal baru saja belajar dari media sosial. Pengaruh perkembangan teknologi informasi memang sangat luar biasa. Dan ini yang dimanfaatkan untuk menyebarkan paham-paham baru ke masyarakat. Saat ini orang yang sudah punya kemampuan bidang agama juga bisa terpapar pola pikir radikal karena membaca broadcast di medsos yang dirangkai dengan kata-kata halus dan narasi yang bagus sehingga kalau orang tidak tahu bisa terpengaruh karena pelan-pelan dimasukkan kalimat-kalimat propaganda yang mempengaruhi pemahaman pembaca. Jangankan yang punya modal pengetahuan agama setengah-setengah, yang alumni pesantrenpun ada yang terpapar paham radikal transnasional melalu media sosial.

Jadi jika tidak hati-hati, semua bisa terpapar radikalisme?

Ya. Tidak hanya pelajar saja namun saat ini sudah ada para cendikiawan yang juga terpapar oleh paham radikal. Anehnya yang bersangkutan tidak merasa radikal tapi merasa benar. Mereka akan terus merasa tidak senang dengan kelompok selain mereka. Semua kan bermula dari rahmah, rasa cinta. Kalau orang tasawuf, lihat orang sakit jiwa saja masih tetep cinta. Lihat orang melakukan yang menurut ilmu fiqh itu jahat kadang tersenyum.

Oleh karenanya kita harus mencontoh kiai-kiai Nahdlatul Ulama yang mampu membentengi diri dari paham-paham radikal walaupun mereka belajar agama lama di Timur Tengah. Seperti Gus Mus, Kiai Said dan yang lainnya. Malah saat ini yang belajar cuma setahun dua tahun begitu pulang ke tanah air sudah berubah dan radikal.

Perilaku dan tindakan radikal berawal dari pola pikir radikal. Sehingga harus ada yang pola deradikalisasi yang salah satunya pemberian ruang untuk Islam washatiyah. Makanya NU saat ini programnya bukan hanya sekedar dakwah menggelorakan Islam washatiyah tapi juga dakwah yang didalamnya ada pendidikan. Jangan pernah merasa lelah karena kalau kita berhenti kelompok ini akan tetap hadir.

Dalam hal ini pemerintah saat ini sangat memerlukan NU. Saya tidak bisa membayangkan jika negara Indonesia ini tidak ada Nahdlatul Ulama. NU itu secara kuantitas banyak. Kualitas keilmuan agama para ulamanya juga tidak diragukan lagi. Kalau ada orang alim walaupun tidak secara langsung menunjukkan ke-NU-annya, namun secara amaliah mayoritas memegang kuat amaliah NU dan paham Ahlussunnah wal Jama’ah.(*)
Diambil dari : http://www.nu.or.id/post/read/91898/cengkraman-radikalisme-di-kampus-perguruan-tinggi
Esai Oleh Abdullah Alawi

Beberapa bulan sebelum puasa tahun ini, saya menyaksikan sendiri peneliti Jepang mewawancarai Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin di Pojok Gus Dur, lantai dasar PBNU, Jakarta. Dia bertanya tentang tawasul sebagai salah satu praktik warga NU atau Islam Nusantara. 

Masya Allah, peneliti yang profesor itu kebingungan bukan main memahaminya. Kalau tidak banyak orang di situ, mungkin membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Namun, karena sikap semacam itu tak elok dilakukan seorang profesor jenis apa pun, apalagi dari negara maju, dia hanya meringis dan mengerenyitkan kening seperti orang menahan buang hajat berbulan-bulan. 

Berkali-kali dia bertanya sambil mencatat. Bertanya, mencatat. Bekali-kali pula Kiai Ishom menjelaskan dengan berbagai tamsil dan dalil. 

Entahlah waktu itu dia pada akhirnya memahami atau tidak. Saya tidak bertanya, dia tidak memberitahukan pemahaman yang diserapnya. Mudah-mudahan saja ia paham. Kalupun tidak, mudah-mudahan tidak seperti orang Indonesia yang menafsirkan sendiri, menyimpulkan sendiri, lalu menyalahkannya.

Wajar mungkin sang profesor sempoyongan memahami tawasul karena terbentur cara berpikir berlainan. Butuh beberapa waktu untuk memahaminya seperti yang dimaksud dalam pemahaman orang NU sendiri. 

Itu Islam Nusantara dalam salah satu praktiknya. Lalu bagaimana dengan organisasinya, Nahdlatul Ulama?  

Sekitar tahun 1971, KH Saifuddin Zuhri menceritakan dalam satu tulisannya tentang KH Wahab Hasbullah, ada peneliti Amerika Serikat bernama Allan Samson yang meneliti NU selama 6 bulan. Ia mengeluh, ternyata kesimpulannya salah. Ia juga mengeluh ternyata banyak peneliti lain yang salah baca. Namanya salah baca, tentu saja salah juga dalam mengambil kesimpulan, bukan?    

Menurut Kiai Saifuddin, 6 bulan itu tak seberapa. Ada pempimpin-pemimpin besar orang Indonesia sendiri selama 40 tahun bergaul dengan NU, tapi tetap saja mengambil kesimpulan salah. Mereka sukar memahaminya atau memang tak mau paham.

Jadi, biasa saja orang mengambil kesimpulan salah terhadap NU. Karena memang dari sananya sudah begitu jejaknya. Jika hari ini banyak orang yang mempertanyakan tentang Islam Nusantara dengan cibiran dan menyalahkan, gen mereka sudah ada sejak masa lalu. Bibitnya selalu diternak. 

Tariklah ke masa yang lebih jauh, pada masa awal NU berdiri, 1926. Sekelompok kiai pesantren dari desa tiba-tiba membikin organisasi. Tidak bergemuruh. Lalu, dalam statutennya (AD/ART), mereka mencantumkan sebagai kelompok bermazhab kepada salah satu imam mazhab empat. 

Waktu itu, statuten demikian lain dari yang lain tentunya lantaran sedang bergemuruh semangatnya Islam pembaruan, kembali kepada Al-Qur’an dan hadits. Buat apa mazhab-mazhaban. Umat Islam harusnya mengambil hukum dari sumbernya langsung. Sikap bermazhab (mereka menyebutnya taqlid buta, padahal istilah itu tidak ada di NU) adalah lambang kejumudan yang mengakibatkan berlangsungnya penjajahan. 

Mereka mungkin lupa Pangeran Diponegoro yang berusaha mengusir penjajah pada 1825-1830, pemberontakan rakyat Banten dan lain-lain, dilakukan kelompok bermazhab.  Atau mungkin pura-pura lupa dan tak membaca sejarah. 

Menurut Kiai Saifuddin pada Secercah Dakwah (1984), kelompok yang demikian tidak kritis terhadap Muhammad Abduh yang membelokkan pisau analisisnya terhadap kesewenang-wenangan kolonialisme Barat, lalu berbalik menggunakan pisaunya menguliti dunia Islam sendiri, terutama terhadap para ulama. 

Pada saat yang sama, mereka lupa ada yang lebih penting dari itu, menggalang persatuan umat Islam. Menyalahkan umat Islam sendiri dalam hal furu’iyah, justru akan melanggengkan penjajahan. 

Kelompok tersebut, di Indonesia (dulu Hindia Belanda) mengarahkan pisaunya ke kiai-kiai pesantren yang kemudian mendirikan NU. Sebagai kiai pesantren, Kiai Wahab tampil membela sembari “merayu” Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari untuk mendirikan sebuah organisasi kelompok bermazhab. Namun tak direstui hingga 10 tahun. Menurut Kiai Wahab, seandainya Hadratussyekh tidak merestui, ada dua pilihan baginya. Pertama, masuk menjadi anggota organisasi mereka dan bertempur tiap hari dengan mereka untuk membela kalangan pesantren. Kedua, kembali ke pesantren, menutup rapat-rapat dengan informasi dunia luar. Ia hanya mengajar santri. Beruntunglah Hadaratussyekh kemudian merestui. 

Sekali lagi, jika hari ini ada kelompok yang menyalahkan NU yang tidak bersifat prinsipil, mereka adalah copy paste dari kelompok masa lalu yang salah baca. Namanya salah baca, sekali lagi, akan salah mengambil kesimpulan. 

Dalam Secercah Dakwah, Kiai Saifuddin mengutip pendapat Dr. Alfian dari Universitas Indonesia. Kesalahan baca tersebut bersumber dari sikap arogansi, angkuh, karena tidak puas dengan kesangsian menghadapi kebenaran. 

Namun, NU membuktikan dari waktu ke waktu tetap berjalan, lolos melewati berbagai tantangan situasi. Yakinlah, copy paste masa lalu itu akan bisa dihadapi pula oleh NU hari ini. 

Sudah lumrah kita ketahui bahwa ada beberapa bacaan yang biasa dibaca saat kita melaksanakan shalat. Saat berdiri misalnya, kita diwajibkan membaca Al-Fatihah dan disunahkan membaca surat pendek setelahnya.

Namun saat berjamaah, apalagi saat menjadi makmum, ketika imamnya membaca surat-surat tersebut dengan keras (keras), masihkah kita disunahkan membaca surat tersebut? Dalam bahasa sederhana, apa yang dibaca makmum ketika imam membaca surat pendek?

Surat pendek dalam hal ini hanya sebagai contoh saja. Karena bisa jadi imam membaca surat yang lebih panjang, tergantung surat apa yang dibaca oleh imam setelah membaca surat Al-Fatihah.

Menjawab hal ini, kita perlu merujuk sebuah hadits riwayat Imam An-Nasa’i berikut ini.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى صَلاَةَ الظُّهْرِ أَوِ الْعَصْرِ ، وَرَجُلٌ يَقْرَأُ خَلْفَهُ ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ : أَيُّكُمْ قَرَأَ بِـ{سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} ؟ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ : أَنَا وَلَمْ أُرِدْ بِهَا إِلاَّ الْخَيْرَ . فَقَالَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم : قَدْ عَرَفْتُ أَنَّ بَعْضَكُمْ قَدْ خَالَجَنِيهَا.

Artinya, “Dari Imran bin Hushoin, bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat zhuhur, atau ashar, kemudian seorang laki-laki di belakang Rasul, membaca sesuatu. Ketika sudah selesai shalat, Rasul bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang tadi membaca Sabbihisma rabbikal a’la?’ Kemudian seorang laki-laki menjawab, ‘Saya wahai Rasul, saya hanya ingin melakukan kebaikan.’ Rasul pun kemudian berkata, ‘Aku telah mengetahui bahwa sebagian dari kalian menyelisihi bacaanku,’” (Lihat Abu Abdurrahman An-Nasai, Al-Mujtaba minas Sunan, Sunan An-Nasai, (Aleppo: Maktabah Islamiyah, 1986), juz II, halaman 138).

Hadits di atas digolongkan oleh An-Nasai dalam bab “Tarkul qira’ah khalfal imam fi ma lam yajhar bihi” (tidak membaca surat di belakang imam yang membaca dengan tidak keras). Dalam bab lain, dijelaskan juga bahwa Rasul memerintahkan agar tidak membaca surat saat imam sedang membacanya dengan keras.

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ : صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بَعْضَ الصَّلَوَاتِ الَّتِي يُجْهَرُ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ : لاَ يَقْرَأَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إِذَا جَهَرْتُ بِالْقِرَاءَةِ إِلاَّ بِأُمِّ الْقُرْآنِ.

Artinya, “Dari Ubadah bin As-Shamit berkata bahwa Rasulullah pernah shalat yang bacaanya dibaca dengan keras. Kemudian Rasul bersabda, ‘Janganlah kalian membaca bacaan ketika aku sedang membaca bacaan dengan keras, kecuali Surat Al-Fatihah,’” (Lihat Abu Abdurrahman An-Nasai, Al-Mujtaba minas Sunan, Sunan An-Nasai, juz II, halaman 139).

Dari dua hadits ini secara zhahir sudah jelas bahwa baik imam membaca keras atau pelan, makmum tak perlu membaca surat, kecuali Surat Al-Fatihah karena Al-Fatihah merupakan salah satu rukun shalat.

Namun, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan dalam Kitab Nihayatuz Zain Syarh Qurratul Ain, bahwa makmum tak perlu membaca surat pada saat imam membaca dengan keras (jahr), berbeda dengan shalat yang sirr (pelan), makmum tetap harus membaca surat karena ia tidak mendengar bacaan suratnya imam.
ولا سورة للمأموم في الجهرية بل يستمع قراءة إمامه فإن لم يسمعها لصمم أو بعد أو غيره قرأ سورة فأكثر إلى أن يركع الإمام إذ سكوته لا معنى له .  وأما السرية فيقرأ فيها السورة لعدم سماعه قراءة إمامه ما لم يكن مسبوقا وإلا سقطت عنه السورة تبعا لسقوط الفاتحة أو بعضها

Artinya, “Tidak perlu membaca surat bagi makmum pada shalat yang jahr, tetapi cukup mendengarkan bacaan imamnya. Jika tidak mendengar karena ia tuli atau jaraknya jauh atau alasan lain, maka makmum tersebut tetap membaca satu surat atau lebih sampai imam melakukan rukuk. Karena diamnya makmum tersebut tidak berarti apa-apa. Sedangkan pada shalat yang pelan (sirriyah), maka makmum tetap membaca surat, karena ia tidak mendengar bacaan imam, selama ia bukan makmum masbuq. Jika ia makmum masbuq, maka gugurlah bacaan suratnya sebagaimana gugurnya al-Fatihah atau sebagiannya,” Lihat Muhammad bin Umar Nawawi Al-Jawi, Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadiin, [Beirut: Darul Fikr, tanpa tahun], halaman 64).

Lalu, apa yang dilakukan makmum saat imam membaca surat dengan keras? Makmum tersebut cukup mendengarkan bacaan suratnya imam. Hal ini senada dengan pendapat Syekh Nawawi di atas, sekaligus searah dengan hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh An-Nasai.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

Artinya, “Dari Abu Hurairah  berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, ‘Sesunggunya orang yang dijadikan imam itu untuk diikuti. Maka ketika ia membaca takbir, bertakbirlah kalian semua, dan jika ia membaca bacaan, diamlah dan dengarkan. Dan jika ia mengucapkan samiallahu liman hamidah, maka ucapkanlah allahumma rabbana lakal hamd,’”  (Lihat Abu Abdurrahman An-Nasai, Al-Mujtaba minas Sunan, Sunan An-Nasai, juz II, halaman 141). Wallahu a‘lam. (M Alvin Nur Choironi)

Sueznya Abdurrahman Wahid
Oleh A. Mustofa Bisri
Kota Suez kota sepi
Kota Suez kota kering
Dengan angin suara kami beriring
Dendang membelah hati
<>Kau yang jauh dari kami
kota Suez beri gamitan padamu

Kami beri lagu untukmu
Lagu sunyi hati kami 

Ode Buat Gus Dur
Oleh D. Zawawi Imron
I

Aku tak tahu, kata apa yang pantas kami ucapkan
untuk melepaskan, setelah engkau bulat
menjadi arwah
<>Setiap daun kering pasti terlepas dari tangkai
bersama takdir Tuhan
Untuk itu kami resapi Al-Ghazali
bahwa tak ada yang lebih baik
daripada yang telah ditakdirkan Allah
Karena itu kami rela
mesti tak sepenuhnya mengerti
karena yang terindah adalah rahasia

II
Bendera dinaikkan setengah tiang
Tapi angin seakan enggan menyentuhnya
apalagi mengibarkannya
Biarkan bendera itu merenung
menafakkuri kehilangan ini
yang bukan sekadar kepergian
Bendera itu diam-diam meneteskan juga
air mata, yang didahului tetesan embun di ujung daunan
Semua membisikkan doa
seperti yang kucapkan setelah kau dikuburkan
Bendera itu seperti tak punya alasan
untuk berkibar, seperti kami yang tak punya alasan
untuk meragukan cintamu
kepada buruh pencangkul yang tak punya tanah
atau kepada nelayan yang tidak kebagian ikan
Cintamu akan terus merayap
ke seluruh penjuru angin
dan tak mengenal kata selesai

III
Di antara kami ada yang mengenalmu
sebagai pemain akrobat yang piawai
sehingga kami kadang bersedih
dan yang lain tersenyum
Yang kadang terluput kulihat
adalah kelebat mutiara
yang membias sangat sebentar
Hanya gerimis dan sesekali hujan
yang menangisi momentum-momentum yang hilang
padahal kami tahu
momentum tak kan kembali
dan tidak akan pernah kembali

IV
Matahari besok akan terbit
mengembangkan senyummu
lalu dilanjutkan
oleh bibir bayi-bayi yang baru lahir
Merekalah nanti yang akan bangkit
membetulkan arah sejarah

Selamat jalan, Gus Dur!
Selamat berjumpa dengan orang-orang suci
Selamat berkumpul dengan para pahlawan
Karena engkau sendiri
memang pahlawan


Durrahman

Oleh Joko Pinurbo

Mengenakan kemeja dan celana pendek putih,
Durrahman berdiri sendirian di beranda istana.
Dua ekor burung gereja hinggap di atas bahunya,
bercericit dan menari riang.
Senja melangkah tegap, memberinya salam hormat,
kemudian berderap ke dalam matanya yang hangat dan terang.

Di depan mikrofon Durrahman mengucapkan pidato singkatnya:
“Hai umatku tercinta, dalam diriku ada seorang presiden
yang telah kuperintahkan untuk turun tahta
sebab tubuhku terlalu lapang baginya.
Hal-hal yang menyangkut pemberhentiannya
akan kubereskan sekarang juga.”

Dua ekor burung gereja menjerit nyaring di atas bahunya.
Durrahman berjalan mundur ke dalam istana.
Dikecupnya telapak tangannya, lalu dilambai-lambaikannya
ke arah ribuan orang yang mengelu-elukannya dari seberang.

Selamat jalan, Gus. Selamat jalan, Dur.
Dalam dirimu ada seorang pujangga yang tak binasa.
Hatimu suaka bagi segala umat yang ingin membangun kembali
puing-puing cinta, ibukota bagi kaum yang teraniaya.
Ketika kami semua ingin jadi presiden,
baju presidenmu sudah lebih dulu kautanggalkan.

(2010)


Karena Ayahku

Oleh Inayah Wahid

Kalau aku orang dermawan, itu karena ayahku yang mengajarkan
Kalau aku jadi orang toleran, itu karena ayahku yang menjadi panutan
Kalau aku jadi orang beriman, itu karena ayahku yang menjadi imam

Kalau aku jadi orang rendah hati, itu karena ayahku yang menginspirasi

Kalau aku jadi orang cinta kasih, itu karena ayahku memberi tanpa pamrih

Kalau aku bikin puisi, ini karena ayahku yang rendah hati



Tafakur Bagi Gus Dur

Oleh Adhi M Massardi

Pada Rabu terakhir di tahun yang ragu
Aku mendengar kabar dingin angin
Lalu orang-orang menyebut namamu
Dalam nyanyian yang tak mungkin

Tapi pada Kamis terakhir tahun yang penuh tangis
Seribu Malaikat berdzikir mengiringi langkahmu
Seribu Bidadari mengikatkan selendangnya pada teralis
Dan aku hanya bisa menggumam: “O, Guruku…”

Kebijakanmu adalah cermin kebajikanmu
Kebesaranmu adalah cermin kesabaranmu
Bahkan ketika angin tak lagi membawa pesan penyair
Kau tetap lebih suka menyapa orang-orang tersingkir

Bunga mekar di taman
Bunga gugur di taman
Engkau duduk di singgasana
Engkau pergi dari sana

O, alangkah lekasnya waktu

Tapi engkau pergi
Setelah meninggalkan api kecil di hati kami
Yang tak akan pernah mati

Dan kami akan terus melangkah
Mengikuti jejakmu
Agar Tanahair kami penuh berkah

Selamat Ulang Tahun ke 71, Gus
Oleh WS. Budi S.T.
Ketika orang-orang diam saja,
Engkau sudah berbicara,
Kala orang mulai berwacana,
Dikau telah berbuat nyata,
Dan saat orang ikut-ikutan,
Sampeyan berani pasang badan.

Hati nurani sampeyan begitu peka,
Pada setiap bentuk ketidakadilan,
Secara spontan sampeyan membela,
Dengan ikhlas penuh ketulusan.

Gus,
Andai sampeyan masih di Ciganjur,
Usia sampeyan tepat tujuh satu,
Kita bisa makan bareng tumpengan,
Dan Bu Sinta cium pipi kiri dan kanan.

Namun kini sampeyan sudah pindah,
Ke rumah asri Gusti Allah,
Apakah disana ulang tahun dirayakan?
Dan handai-taulan ramai berdatangan?

Gus,
Sedang apa sampeyan sekarang?
Duduk santai sambil sarungan?
Atau asyik berbincang-bincang?
Dengan proklamator dan para pahlawan?

Gus,
Tolong diskusikan masa depan negeri ini,
Dengan seluruh pahlawan negeri.
Sampaikan resep yang mujarab,
Agar para elitenya sadar bertobat,
Rakyatnya sehat berjiwa kuat,
Rohaniwannya ikhlas bermartabat.

Gus,
Sampaikan permohonan kepada Gusti,
Semoga anak-anak negeri ini,
Hidup lurus berbudi pekerti,
Bekerja keras setulus hati,
Rajin jujur dan mawas diri,
Giat belajar berjiwa besar,
Rukun harmonis penuh empati,
Tahu malu anti korupsi.

Semoga Kebajikan Tuhan merakhmati,
Shanzai,
Amen,
Sadhu-Sadhu-Sadhu,
Omitofo,
Rahayu-Rahayu-Rahayu,
Amiin, Amiin, ya Rabbal 'Aalamiin.

Jakarta, 04 Agustus 2011.


Lelucon Menjelang Kematian
Oleh Agus Noor
: Gus Dur
1/
Aku ingin mendengar leluconmu, sebelum mati. Engkau pun bercerita perihal kerbau.
Syahdan, seekor kerbau muncul di depan istana. Para penjaga heboh, dan segera melapor pada Presiden. “Apa yang harus kami lakukan?” tanya penjaga. “Jangan gegabah. Kita mesti hati-hati, pada apa yang belum kita mengerti,” jawab Presiden. “Pasti saya akan ambil keputusan, tapi nanti.”
Dan kau, juga aku, pada akhinya tahu: seorang penyair pernah mengatakan, hidup hanya menunda kekalahan. Maka, bagi Presiden itu, hidup hanya menunda keputusan.

2/
Maut, yang berdiri di sisi ranjang pun tertawa. Bahkan, menjelang mati pun kamu masih lucu. Lalu perlahan disentuhnya, ruhmu.
“Bukan kematian benar menusuk kalbu,” katamu, seperti pada bait puisi. “Tapi, bila boleh menawar, saya tak ingin mati hari ini. Sekarang 25 Desember, bukan? Hari yang ranum dan bahagia. Saya tak ingin siapa pun yang merayakan kelahiran Tuhan, berduka karna kematian saya.”
Maut terasa fana. Dalam mati pun, ada yang terasa lebih berharga.

Inilah puisi untuk Gus Dur yang dibacakan pada puncak perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2561 di Jakarta Convention Center, yang dihadiri oleh Presiden SBY, Sabtu (20/2).

Selamat Beristirahat Gus, Semoga Sampeyan Tidak Melupakan Kami

Gus, sudah 53 hari sampeyan pulang, ke rumah Gusti yang Maha Sempurna, Maha Hangat, Maha Murah Senyum, Maha Welas Asih, dan maha bijaksana...

Kami berharap Gus, semoga saja sampeyan kerasan, damai, nyaman, tenteram, dan bisa beristirahat dengan tenang ....

Sesungguhnya Gusti Allah sangat sayang sama penjenengan Gus. Beliau memantau terus kerja dan karya-karya sampeyan yang tulus, ikhlas, lurus, total dan tak pernah mau istirahat...

Meski diberi sakit, sampeyan tetap nekat jalan-jalan, menyapa kawan, menyambagi lawan, menjaga silaturrahmi, tanpa memandang pengkat dan golongan...

Meski diberi kegelapan pandangan, sampeyan juga tak mau diam dan duduk manis, tak lelah berkeliling negeri, membela yang tertindas, menguatkan yang lemah, tanpa pandang warna, tak peduli bendera...

Meski sering ditinggal sendirian, sampeyan juga tak pernah gentar, kalau yakin diri sampeyan benar, tetap tegar berdiri sendiri di depan, tak undur meski hanya selangkah, dengan tabah dan penuh keyakinan...

Sampeyan juga tak peduli ditelikung lawan dan kawan, tak ambil pusing dan dengan enteng sampeyan malah maju terus dan pasang badan, sambil sesekali berkata, gitu aja kok repot!

Gus, kini penjenengan dipaksa pulang ke rumah Gusti, beliau sangat sayang sama sampeyan, ingin sampeyan benar-benar istirahat melepaskan beban, sambil sesekali menemani Gusti minum kopi...

Selamat beristirahat Gus, temani Gusti yang Maha Bijak, agar beliau senang, setidaknya masih ada orang Indonesia yang sebaik sampeyan...

Namun Gus, sesekali bujuk beliau agar mau menolong Indonesia, agar negara kita dapat maju dengan perkasa, elitnya sadar mana yang inti dan mana yang variasi, serius dan kompak bekerja demi negara, meninggalkan
remeh-temeh tiada guna, fokus pada solusi dan kerja nyata...

Gus, sembuhkan juga rabun hati yang menimpa sebagian anak bangsa, yang tak bisa membedakan mana milik pribadi dan mana milik bersama, sehingga korupsi nanti tinggal cerita di buku-buku sejarah lama...

Oya Gus, kalau Gusti mulai bosan, mengkel dan marah melihat ulah para elit kita, tolong sampeyan hibur dengan guyonan maha dahsyat, agar Gusti terpingkal-pingkal, luluh hati dan mau mengampuni dosa-dosa
kita...

Gus, Selamat beristirahat, kini saatnya sampeyan hidup sejahtera, di samping Gusti junjungan kita.

Diambil dari : http://www.nu.or.id/post/read/39971/gus-dur-dalam-puisi

Masalah menepuk pundak memang banyak diperkatakan orang, dalam isyarat makmum untuk mengikuti imam yang tidak diketahui apakah dia sembahyang sunnah atau sembahyang fardhu. Akan tetapi ibarat (ta’bir) yang sharih belum kunjung saya jumpai dalam kitab-kitab agama.

Walaupun makruh hukum mengikuti orang yang sembahyang fardhu kepada imam yang sembahyang sunnah, tetapi sah jamaah, jika sesuai nazham shalat keduanya. Dalam Kitab Taudhihul Adillah jilid kedua pada halaman 189-190, telah kami utarakan hukum shalat berjamaah yang seperti ini.

Ilmu itu memang luas sekali, terutama ilmu fiqih yang menjelaskan hukum dari segala sesuatu kejadian dan peristiwa, karena waqi‘ah selama hidup dan berkembang kehidupan umat manusia, tidaklah akan habis-habisnya. Rasanya tidak kurang dari 40 tahun saya mulazamah dengan kitab-kitab fiqih, tetapi belum pernah menjumpai masalah menepuk pundak.

Bahkan menurut zhahirnya, orang yang akan mengikut imam itu belum masuk ke dalam sembahyang, maka jika ditepuknya bahu imam yang sudah masuk dalam sembahyang, yang mungkin akan men-tasywis-kannya (merusak konsentrasinya). Jika banyak tasywis-nya tentulah haram, jika sedikit sekurang-kurangnya adalah makruh.

Kalau hal itu memang dianggap sunnah dan banyak dilakukan, maka saya harapkan kepada cerdik pandai untuk menunjukkan kepada saya tentang menepuk pundak itu, tentang kitabnya, dan halamannya, baik melalui surat ataupun datang ke tempat kami, insya Allah akan kami beri penggantian ongkos yang layak. Dan sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih. (Lihat KHM Syafi’i Hadzami, Taudhihul Adillah, [Kudus, Menara Kudus: 1986], jilid VII, halaman 167-168).